PILKADA LEMBATA
CUMA PESTA MASYARAKAT IBU KOTA?
Oleh : Eman Doren
Menarik untuk disimak, ditengah hiruk pikuk tabuhan gendang pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kabupaten Lembata, yang mengangkat sejumlah nama yang diusung berbagai partai politik untuk siap bertarung di ajang pemilihan pilkada Mei mendatang, sungguh ironis, masih banyak masyarakat kabupaten Lembata itu sendiri belum mengetahui adanya pesta lima tahunan ini, pesta yang akan menentukan nasib dan kelangsungan roda pemerintahan di bumi Lembata, yang dampaknya berujung pada kesejahteraan dan peningkatan taraf hidup rakyat Lembata.
Dari berbagai informasi lisan yang didapat penulis ketika berkunjung ke beberapa desa terpencil di wilayah kabupaten Lembata, diketahui- hampir sebagian masyarakat terpencil tidak mengerti apa itu pilkada, apa itu KPU, Paket TITEN, AYO, JONSON, dan lain sebagainya. masyarakat hanya bisa menjawab jika ditanya tentang pekerjaan mereka, hasil pertanian, sekolah, jalan raya, rumah ibadah dan segala macam rutinitas kehidupan mereka sehari - hari. sungguh memprihatinkan, ditengah kemajuan teknologi dan media informasi masa kini, dampak dari kemajuan tersebut belum bisa merambah belantara kehidupan masyarakat pedalaman. kesejahteraan hanya milik masyarakat ibu kota yang nota bene kehidupan mereka bergantung pada hasil bumi masyarakat pedalaman. coba anda bayangkan, darimana ibu kota mendapatkan sayur murah?, dari desa. dari mana ibu kota mendapatkan padi, ubi, jagung, pisang?. jawabannya tentu dari desa. sungguh picik jika kita melupakan peran masyarakat pedesaan dalam menopang sendi - sendi kehidupan masyarakat Lembata khususnya Ibu kota.
Mungkin kita berpikir, ah, kenapa harus ke desa? kita bisa saja mengimpor beras, ubi, jagung, pisang dari tempat lain?, atau bisa mengimpor makanan jadi seperti roti, tepung, gula pasir, biskuit dan lain sebagainya. kan lebih gampang. kita kan ada uang. tapi yang perlu diingat, uang yang kita dapatkan dari gaji bulanan adalah pajak yang di bayar masyarakat desa. makanan jadi yang kita impor, roti, tepung, keju, gula dan lain sebagainya bahan dasarnya asalnya dari mana?, dari desa juga kan?. karena itu wajar kalau ada keprihatinan terhadap masyarakat desa menjelang pilkada 2011 ini. pesta yang sesungguhnya adalah milik rakyat, jangan sampai menjadi ajang perebutan kekuasaan, ajang politik yang hanya menguntungkan pelaku politik dan segelintir orang yang mencari keuntungan di dalamnya. masyarakat desa, meski tersembunyi di dalam belantara hutan dan perbukitan terpencil, tapi mereka bukan orang bodoh. bicara politik mungkin mereka tidak tahu, tetapi jika di tanya harapan untuk mendapatkan pemimpin yang tepat, mereka lebih pintar, bijaksana, lebih mengenal dan lebih tepat dari kita. kalau kita memilih dengan berdasarkan faktor - faktor tertentu misalnya, keuntungan, pekerjaan, uang, dan janji masa depan pribadi, masyarakat desa tidak mengharapkan seperti itu, yang mereka inginkan adalah perubahan ke arah kesejahteraan yang lebih baik. mereka minta jalan raya, agar bisa menjual hasil bumi. mereka minta penerangan, agar anak - anak mereka bisa belajar dengan baik, mereka minta air, agar bisa mandi, cuci dan memasak dengan layak, mereka minta modal usaha, agar bisa mengembangkan usaha demi perbaikan ekonomi yang lebih baik. Lembata bisa maju, jika ada keseimbangan kesejahteraan antara desa dan ibu kota.
Membaca ketidaktahuan masyarakat pedalaman akan adanya Pilkada Lembata, tentu membuat kita, anda atau calon kepala daerah untuk berinisiatif turun meninjau keadaan mereka. bukan? namun perlu dipertanyakan juga, apa dasar atau latar belakang yang mentenggarai niat kita untuk mendekati mereka? prihatinkah?, ingin melihat dan mendengar sendiri?, atau ada maksud terselubung misalnya, memanfaatkan kesempatan untuk memberi informasi dan menyarankan mereka agar memilih paket tertentu?. saudara, tolong jangan racuni pikiran mereka, jangan memberi janji - janji muluk untuk mereka. biarlah mereka tetap tidak tahu, biarkan mereka dengan rutinitas harian mereka. memberi janji, sama dengan menipu, memberi informasi, sama saja anda sudah terlambat, mungkin anda sudah punya niat tertentu. bukan berarti saya melarang masyarakat pedalaman untuk ikut ambil bagian dalam pilkada ini. Tidak. tulisan ini hanya untuk menggugah nurani kita. supaya dari tempat kita berdiri, ditengah - tengah hiruk pikuk genderang pilkada Lembata, kepala kita mendongak, mata, fikiran dan nurani kita tertuju pada suara dan harapan yang terbungkam di kesunyian belantara pedalaman, dan yang terakhir adalah niat kita untuk menjadikan harapan mereka menjadi sebuah kenyataan. sehingga ketika kita terpilih nanti, kita bisa menghidupkan pesta rakyat Lembata yang sebenarnya. pesta rakyat yang sejahtera, berkeadilan, seimbang antara pedalaman dan ibu kota.(seno com/ eman doren)